Skip to content

Prananda Prabowo: Biarlah waktu yang berbicara

Kamis, 12 September 2013 08:23:13

Reporter : Laurencius Simanjuntak

Selain Puan Maharani, ada satu anak lagi Megawati Soekarnoputri yang kini terjun dalam dunia politik. Dia adalah Prananda Prabowo. Di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), pria 42 tahun itu tidak masuk struktur Dewan Pimpinan Pusat (DPP) seperti adiknya, Puan, namun dia memimpin Ruang Pengendali dan Analisis Informasi (Situation Room).

Kepala Situation Room PDIP bukanlah jabatan remeh. Sang kepala berhak memberikan informasi langsung kepada Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Karena merupakan hasil analisis, informasi yang diberikan tentu obyektif. Ini untuk menghidari kesesatan informasi yang jamak di dunia politik.

Berbekal keahlian di bidang Teknologi Informasi, Prananda seolah ingin membangun semacam The West Wing, sebutan untuk Situation Room Gedung Putih AS. Di ruang bawah tanah sisi barat Gedung Putih itulah Presiden Obama bisa memantau dan mendapat informasi dari segala penjuru dunia berserta analisisnya.

Dari The West Wing ala PDIP itu pulalah lahir pidato-pidato Megawati yang sarat informasi soal kegagalan-kegagalan pemerintah di sejumlah bidang. Kegagalan itu kemudian dikontraskan dengan kutipan ide, gagasan dan cita-cita Bung Karno sebagai pendiri bangsa, yang dimasukkan dalam teks pidato. Bisa dibilang, Prananda adalah Bung Karno dalam retorika (seni bertutur) Mega.

Merdeka.com mendapat kesempatan untuk mewawancari Prananda tentang kegiatannya mengolah informasi dan mengarsipkan karya sang kakek, Bung Karno. Namun karena kesibukannya, Prananda baru bisa melayani wawancara secara tertulis seraya berjanji wawancara tatap muka untuk topik lain.

Berikut wawancaranya:

Saya dengar Anda aktif mengarsipkan segala sesuatu tentang Bung Karno, seperti pidato, film, dsb. Bisa diceritakan?

Betul sekali, saya memang tengah aktif melakukan pengarsipan tersebut. Walaupun sebenarnya hal ini secara bertahap sudah lama saya lakukan. Namun akhir-akhir ini pihak keluarga besar Bung Karno banyak memberikan dukungan. Pak Guntur, misalnya, memberikan koleksi foto-foto yang dimilikinya. Ibu Megawati juga banyak memberikan koleksi arsip film dan buku-buku Bung Karno yang beliau miliki.

Berawal dari keinginan saya untuk mengenal sosok Bung Karno dan belajar mengenai ajaran Bung Karno, yang kemudian dengan berjalannya waktu, keinginan untuk menjadikan koleksi tersebut hanya sebagai pajangan pribadi tersublimasi menjadi keinginan untuk memperkenalkan kembali sosok Bung Karno kepada masyarakat dengan harapan kita semua bisa membumikan ajaran Bung Karno. Hal ini saya coba lakukan melalui website dan jejaring sosial.

Anda disebut-sebut orang di balik pidato ibu Anda, Megawati, yang sarat kutipan-kutipan Bung Karno. Sejak kapan mulai aktif melakukan kegiatan ini? Apa tujuannya? Sekadar romantisme sejarah atau apa?

Saya aktif secara ‘fisik’ sejak Kongres III PDI Perjuangan di Bali pada tahun 2010. Di kongres tersebut partai memutuskan kembali ke jalan ideologi, berjuang untuk kesejahteraan rakyat. Nah, dalam konteks ini Ibu Megawati menegaskan bahwa gagasan dan nilai-nilai perjuangan Bung Karno harus menjadi bintang penuntun (Leitstar) dalam bersikap dan berperilaku. Jika anda menyimak setiap pidato yang disampaikan oleh Ibu Megawati, kutipan Bung Karno tersebut bukanlah romantisme belaka, namun merupakan satu kesatuan dari seluruh materi pidato. Karena itu, beliau selalu berupaya menyeleksi setiap kutipan Bung Karno agar sesuai dengan inti materi pidato beliau.

Adakah benda atau arsip peninggalan Bung Karno yang sangat berarti bagi hidup Anda?

Kebanyakan benda peninggalan Bung Karno saya peroleh dari keluarga. Namun untuk buku, foto, dan semacamnya, saya berupaya juga untuk mencari sendiri. Sulit bagi saya untuk menentukan mana yang paling berkesan, karena di dalamnya memiliki sejarahnya sendiri-sendiri. Ada peristiwa, nama, dan tempat yang masing-masing memiliki kesan tersendiri.

Anda sekarang bebas mengarsipkan karya kakek Anda, tidak seperti saat rezim Orde Baru yang mengekang keturunan Bung Karno dan melakukan Desoekarnoisasi. Sebagai cucu yang besar pada era Orde Baru, apakah Anda cukup merasakan itu? Apa yang paling Anda ingat?

De-soekarnoisasi tak hanya berlaku untuk keluarga besar Bung Karno. Seluruh pendukung Bung Karno banyak juga yang diperlakukan dengan tidak adil, terutama di awal-awal Orde Baru berdiri. Perlakuan mereka yang paling saya ingat terhadap ibu saya, Ibu dilarang untuk bisa melanjutkan kuliah karena memperjuangkan keyakinan politiknya sebagai aktivis GMNI.

Kebanyakan publik hanya mengenal Puan Maharani sebagai cucu Soekarno dari Megawati. Padahal, ada dua yang lebih tua, Pratama dan Anda. Tanggapan Anda? Apakah siap juga masuk ke politik untuk melanjutkan kepemimpinan trah Soekarno?

Mengenai pertanyaan ini saya menolak menjawab. Yang pasti, biarlah waktu yang berbicara.

(mdk/cob)www.merdeka.com